Dunia Kecilku

Selamat datang di dunia kecilku. Dunia yang terbatas ketidakmampuan mengekspresikan semua keinginan, dunia yang hanya berupa penggalan penggalan, dan akan menjadi utuh karena kehadiranmu. :D

Cep Agus diajar nulis Headline Animator

Tampilkan postingan dengan label menyentuh langitmu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label menyentuh langitmu. Tampilkan semua postingan

Kamis, 23 Agustus 2012

Menyentuh Langitmu : Part 6. Aku, Pak Tua, dan Tuhan

Bangku bambu yang terpaku rapi di depan kios rokok berderak saat kududuki. Lampu bohlam lima watt, memancarkan cahaya remang yang dimainkan ngengat malam. Seorang laki laki tua keluar dari dalam kios dengan nampan dan secangkir kopi panas. Asapnya bergoyang menabrak udara di sekitarnya. Laki laki itu kemudian duduk di ujung bangku yang lain, setelah meletakan kopi di antara kami. 

Kamis, 16 Agustus 2012

Menyentuh Langitmu: Part 5. Keluarga, Sahabat dan Tuhan

Malam merangkul, tangan tangan gelapnya mendekap erat. Tak lantas tertebas laju motor yang kupacu tanpa arah. Seolah tertawa. Menyaksikan ketidakberdayaan ku menghadapi dunia. Namun aku belum mau mati. Ada cahaya kecil yang entah milik siapa. Sahabat? Kerabat? Saudara? Entah. Aku pun tak tahu keberadaan mereka kini. Di mana mereka yang dulu kupedulikan dan peduli terhadapku? Setiap rumah yang kuketuk selalu kosong. Tak punya yang kuminta. Telinga tuk mendengar duka yang kubawa. Tangan tuk membantu menahan beban yang kurasakan. Ah…Tuhan? Selalu dalam kesendirian aku mulai mengingat Mu.


Senin, 06 Agustus 2012

Menyentuh Langitmu: Part 4. Laki Laki dan Kenangannnya

And the rain begins to fall down on me
As the sadness growing deep inside me
I feel a little insecure right now
I am crawling, looking for a place to hide
So where has all my lights gone?
For I need to fine the way out there
In my every breath, I am chanting your name
Give me strength so I can save my soul

Lagu itu mengalun lembut dari tape deck hitam di samping tempat tidurku. Setiap nadanya menggiring kesendirian dari tiap sudut ruang ke dalam dada. Kucoba menguapkan kehampaan dan kesunyian itu dengan kepulan asap putih dari batangan tembakau yang terbakar, namun mereka enggan terurai. Semuanya seolah larut dalam setiap bentuk yang ku alirkan.

Sabtu, 04 Agustus 2012

Menyentuh Langitmu : Part 3. Aku dan Perempuan Itu

Matahari siang itu seolah membenciku. Ia memusatkan semua panasnya tepat ke kepala. Namun aku enggan beranjak. Aku tetap duduk di atas motor yang terparkir tak jauh dari tempat kemarin. Dua mata ini tengah mencari sosok perempuan yang  telah menghancurkan harga diri ku. Perempuan berjilbab dengan mata bulatnya yang tajam berkilat. Ingin rasanya kubuat mata itu menangis, mengucurkan kepedihan yang tengah kurasakan. Senyumnya. Senyum di bibir mungil yang sok suci itu, begitu ingin kurobek dan kubuat mengerang, memohon maaf dan ampun.

Kamis, 02 Agustus 2012

Menyentuh Langitmu: Part 2. Ia dan Cintanya


“Aw… “ cubitan kecil yang kurasakan saat Phia menempelkan obat merah di bibirku yang jontor cukup membuat ku tersentak.
“Ah masa jagoan kampus cengeng kaya gini.” Ucap Phia, sepupu kecilku yang mengobati sambil tersenyum.
“Tenang aja Ka Adi, kakak masih ganteng koq.. “ Ledeknya. Mungkin, bagi orang yang baru kenal, akan capek mendengar ocehannya.
“Oh iya Ka, Motor kakak yang gede ada di bengkel. Rusak parah. Tangkinya penyok, stangnya bengkok. Lampu depannya juga pecah. Kemarin Phia sama Mang Cahyo ngambil motor itu. Dianter sama kakak… emh siapa ya namanya…Oh iya ka,  siapa perempuan yang mengantar Kaka pulang kemarin?  Pacar ka Adi bukan? Tapi sejak kapan kaka punya cewe berjilbab? Eh tapi cantik koq kak, ramah lagi…“ 

Selasa, 31 Juli 2012

Menyentuh Langitmu: Part. 1 Aku dan Egoku

"Buk" sebuah pukulan keras tepat mengenai rahang kananku. Rasa sakit mulai merayap ke kepala, lalu mengirimkannya kembali ke seluruh tubuh. Untuk sesaat dunia hening. Pandanganku berbayang. Wajah wajah marah itu tersenyum puas. Tubuhku tersungkur di kaki salah seorang dari mereka. Berikutnya tendangan dan injakan di punggung, kepala, bergantian kurasakan. Nyanyian kebencian mereka yang terdengar samar samar mengiringi penyiksaan itu.