 |
sumber gambar: http://beritaihima.com |
“Seharusnya kau tak
berada di sini…” Ucapnya lirih tanpa sempat memandangku. Wajahnya tetap
menghadap ke depan, menatap rerumputan yang bergoyang tertiup angin sore
di penghujung bulan Juli.
Masih seperti dulu, garis tegas di wajahnya menandakan ia enggan
menghadapi dunia dengan keluhan. Matanya yang bulat tajam menikam
kehampaan yang menyelimutinya. Ia begitu dingin kali ini, entah karena
keberadaanku yang tak diinginkan, atau…
“Aku hanya ingin menemui kerinduanku, dan cukup dengan melihatmu tersenyum, aku merasa lega.”
Ucapku dengan berat.
“Bagaimana bisa kau mengucapkan kata rindu, setelah kau memintaku untuk melepaskanmu?”
Tanya nya seraya menatapku. Aku terdiam, menunduk, lalu memandang
rerumputan yang terhampar tenang, menerobos waktu ke masa lalu.
“Kau seharusnya bisa memahami kepedihanku saat kau tinggalkan? Dan
setelah sekian tahun aku berjuang untuk memaafkanmu, merelakan
kepergianmu, kini kau tiba tiba datang lagi ke duniaku. “
Ucapnya datar, matanya kembali berpaling dariku.
“Kupikir kau mengerti….”
“Bagaimana bisa aku mengerti sesuatu yang tak kau jelaskan?” Tanyanya keras, Ia menatapku lagi, kini ada butiran kristal kecil di sudut matanya.
“Ah seandainya kau mau mendengarkan ceritaku…” ucapku lemah lalu
kemudian berdiri, berniat meninggalkannya. Kupikir ia tak lagi mau
mendengarkan aku.
“Ceritakanlah, aku tak punya alasan untuk tidak mendengarnya.” Ia menoleh ke arahku, seraya memintaku untuk duduk kembali.
“Tiga belas Maret 2005, itu satu minggu sebelum aku menemuimu untuk
terakhir kalinya, aku mengalami pendarahan hebat di kepalaku. Sesuatu
yang tak kusangka akan terjadi. Hasil pemeriksaan menunjukan ada tumor
di otakku. Dokter memvonis hidupku tinggal beberapa minggu lagi. Untuk
sesaat aku tersentak, sulit untuk menerima kenyataan itu, namun saat
Ibuku tiba tiba memelukku sambil menangis, sementara ayahku berdiri
menatapku sambil mencoba tegar, aku langsung teringat kata kata
sederhanamu, ‘Sepahit apapun hidup, ia adalah anugrah yang tak semua
orang bisa mencicipinya. Kecaplah dengan cinta, dan kau akan merasakan
manisnya.’”
Sesaat bayangan ibu dan bapak ku saat itu melintas, aku terdiam untuk beberapa saat, sampai ia menegurku.
“Teruskanlah, aku masih mendengarkanmu.”
“Aku terbaring di sana
selama lima hari. Bapak dan ibu terus menemaniku, meski aku telah
meminta mereka untuk pulang. Aku mencoba menikmati semuanya, meski
sulit, karena mungkin ini rasa yang baru bagiku. Dan aku selalu
membayangkanmu di sana, mencoba untuk memimpikanmu, karena sebagian
besar waktu kuhabisakan di alam bawah sadarku. Kau tahu, setiap kali aku
bermimpi tentangmu, aku merasa hidupku terasa lebih baik. Namun maaf,
aku tak mengabarimu saat itu. Aku berpikir bahwa lebih baik kau tak tau.
Aku tak ingin kau merasa iba dengan hidupku, aku tak ingin melihatmu
menangisi keadaanku. Dan selama itu pula aku mencoba memikirkan
bagaimana cara terbaik untuk menghadapimu. Dan kau pun tahu bagaimana
akhirnya.”
“Bagaimana kau bisa yakin bahwa aku akan merasa iba terhadapmu, menangisi keadaanmu?”
Tanyanya seraya menunduk. Aku menghela nafas sejenak.
“Karena aku tahu kau mencintaiku, meski sekali pun kau tak pernah mengucapkan kata itu kepadaku.”
Ia tersenyum, lalu melangkah menemui gadis kecil berrambut ikal yang berlari ke arahnya.
“Umi, apakah itu abi Syifa?” Tangannya menunjuk ke arahku.
Ia memandang lembut gadis kecil itu lalu menggeleng,
“Bukan sayang, ia bukan abi mu, ia sahabat Umi, ayo beri salam”
Gadis kecil itu menghampiriku, mencium punggung tanganku, dan kemudian menatapku dengan mata bulat ibunya. Ia bertanya.
“Paman, apa paman kenal dengan abi Syifa? Apa paman tahu dimana abi Syifa?”
‘Apa ini?’ tanyaku dalam hati, kenapa gadis kecil ini terus bertanya
tentang Abi nya? Begitu rindu kah ia pada abi nya? Begitu hebatkah abi
nya sehingga ia begitu ingin menemuinya?
Aku lalu menurunkan tubuhku, menatap ke dalam mata nya, dan yang kulihat
adalah cahaya pengharapan dan kepolosan. Aku tak sanggup untuk melawan
tatapan itu, aku pun menunduk dan menggeleng.
“Engga sayang, paman tidak mengenal Abi mu.”
Entah apa yang telah
terjadi pada Senja di tahun tahun setelah kepergianku. Yang bisa kulihat
saat ini, ia telah memiliki seorang putri yang entah kenapa terus
bertanya tentang Abi nya. Ingin sekali aku bertanya, namun aku takut.
Tentunya apa yang akan kudengar bukanlah cerita indah, dan akan sulit
baginya untuk mengingat kembali luka luka yang telah mendera hidupnya.
***
“Namanya Syifa
Azzahra, nama yang sengaja kuberikan karena ia mampu mengobati luka
hatiku. Tawa riangnya, cerita polosnya, ataupun tingkah lakunya yang
menggemaskan membuatku merasa jauh lebih mensyukuri kehidupanku. Meski
mungkin orang lain yang melihatnya merasa iba, kasihan, tapi aku tidak.
Aku selalu katakan padanya bahwa kau tak boleh mempertanyakan keadaanmu
saat ini, karena apa yang tengah terjadi kepadamu, itulah yang terbaik
buatmu.”
Aku terdiam sebentar membaca balasan e-mail darinya. Sungguh hebat,
ucapku dalam hati. Ia selalu bijak menanggapi hidup, seperti dulu, saat
ia mengajakku keluar dari kubangan. Aku segera memikirkan apa yang
baiknya kutulis kepadanya, karena aku tak mau ia merasa terusik dengan
kata-kata ku. Perlahan jariku mulai berloncatan di atas keyboard.
“Sungguh, aku masih merasa kagum dengan ketegaranmu untuk menjalani
hidup. Sedikitpun kau tak menyuratkan penyesalan dalam ceritamu. Meski
aku tau, ada yang hilang dari hatimu saat ini. Aku ingin sekali
mendengar ceritamu, namun kau pasti mengatakan, untuk apa? Dan aku pun
tak tahu untuk apa. Mungkin yang bisa kulakukan saat ini adalah
mempertemukan kau dengan orang yang tengah kau rindukan, Abinya Syifa.”
Dan dengan sekali tekan,
kalimat kalimat itu meluncur jauh kepadanya. Entah kapan ia akan
membacanya, dan lalu membalasnya karena aku pun sempat menunggu selama
beberapa hari untuk menerima balasan itu. Aku tak tau, kenapa aku sangat
ingin membantunya, namun kuakui, aku masih menyimpan perasaaan cintaku
padanya. Bertahun aku bertahan dalam masa masa perawatan, dengan
menyimpan harapan, aku masih bisa menemuinya, dalam keadaan tersenyum
dan bahagia. Namun tidak, saat ini aku melihat ada yang tengah hilang
dari hidupnya, dan aku sangat ingin melihatnya bahagia. Sayang, untuk
saat ini aku tak bisa menemuinya, karena ia memintaku begitu. Dan aku
sangat menghargai keputusannya, ia pasti punya alas an yang baik kenapa
ia memintaku begitu.
“Kuharap kau tak meminta apapun dariku atas jasa yang kau tawarkan, terutama cintaku. Karena sungguh aku sangat
menghargai tawaranmu. Sudah cukup lama aku mencari cara agar aku bisa
bergerak mencari Mas Tio, namun aku terhalang kewajibanku untuk menjaga
Syifa. Aku tak ingin menyusahkan orang lain dengan memintanya menjaga
Syifa untukku. Dan aku terlalu khawatir, bila syifa berada jauh dari
sisiku.
Tak apa, akan kuceritakan tentang ia, laki laki yang kuminta kau cari.
Bukan untukku, tapi untuk Syifa. Karena sekalipun ia belum pernah
melihat langsung wajah Abinya. Tio Hermawan, laki laki yang kutemui
sebelum dirimu, seorang rekan dan juga donatur di teater tempatku
bekerja saat itu. Ia datang kepadaku beberapa minggu setelah
kepergianmu. Karena aku berkali absen dari pertemuan. Ia laki laki hebat
sepertimu. Dengan cepat ia memintaku untuk menjadi istrinya. Entah apa
alasanku saat itu, namun aku dengan begitu saja menerima tawarannya.
Kami menikah satu bulan sejak kepergianmu dan aku pun mulai belajar
untuk mencintainya, meski….. Semuanya baik baik saja, sampai suatu
cobaan datang kepada kami. Perusahaan tempatnya bekerja
memberhentikannya karena kesalahan yang tidak diperbuatnya. Ia pun remuk
dan aku pun faham dengan keadaannya.Saat itu aku mencoba untuk
mengembalikannya, namun aku tak sanggup. Cintaku tak mampu membuatnya
kuat, dan pada akhirnya ia pamit tanpa tahu bahwa saat itu aku tengah
mengandung Syifa. Aku pun sadar, aku tak bisa membuatnya mencintaiku,
dan aku pun tak mungkin bertahan dengan cintaku.
Aku terkadang merasa bersalah dengan apa yang telah terjadi kepadanya.
Mungkin bila saat itu yang di sisinya adalah orang yang bisa
menenangkannya, ia mungkin masih ada untuk syifa saat ini. Dan yang bisa
aku lakukan untuknya adalah mendo’akannya. Semoga ia telah menemukan
kebahagiaannya, meski ia kini bukan suamiku lagi, namun tetap ia adalah
Ayah dari Syifa anakku.
Tak kusadari, air mataku jatuh saat aku membaca kalimat
kalimat itu. Apa yang dipikirkannya. Kenapa ia justru merasa bersalah,
bukan nya marah atau kecewa.
“Biar kutebak, kau pasti menangis saat ini. Aku sudah cukup
mengenalmu. Tapi kurasa kau tak perlu melakukannya, karena seperti kau
tahu aku paling tidak suka dikasihani. Apa yang telah terjadi kepadaku
adalah sesuatu yang telah digariskan Tuhan untukku, aku hanya perlu
menjalaninya dengan tetap berada di jalarNya. Oh iya, aku pun
menyisipkan foto Tio, kau bisa melihatnya.
Sekali lagi terima kasih atas kesediaanmu untuk membantuku, kuharap
kau menemukan sesuatu atas apa yang tengah kau lakukan saat ini.“
Sungguh pemandangan yang kulihat berikutnya membuat dadaku
terasa nyeri. Ya Rabb, apalagi ini? Aku menarik nafas panjang, dan
segera menuju ke sudut ruangan dimana telpon rumahku berada. Aku ingin
memastikan satu hal. Tak lama setelah aku menekan beberapa nomer,
panggilan ku diterima.
“Assalamu’alaikum de.
” Aku mencoba tenang, agar tak memberi kesan mencurigakan.
“Wa’alaikum salam, ini Ka Adi ya? Apa kabar Ka? Koq tumben nelpon?” Jawab suara dari seberang sana.
“Alhamdulillah de, Emh…, Mas mu ada? Kaka ada perlu.” Pintaku singkat.
“Mas Tio? Ada, baru aja pulang dari kantor. Emang ada apa sih nanyain mas Tio?”
tanyanya seolah penasaran.
“Ka Adi ingin menanyakan satu hal de.”
“Jadi ga mau ngasih tau nih ada apa?” Aku terdiam, tak menjawab pertanyaannya.
“Ya udah, bentar ya Ka.” Aku menunggu kembali sampai akhirnya kudengar suara dari sana.
“
Assalamu’alaikum Ka. Apa kabar?” Kudengar Tio agak gugup. Karena memang aku jarang sekali berbicara dengan nya.
“Wa’alaikum salam yo, Alhamdulillah. Bagaimana di sana? Paman sehat?” Tanyaku, kembali mencoba untuk tenang.
“
Alhamdulillah Ka, Kami semua sehat, malah kami punya kabar bahagia buat keluarga di Jakarta.”
“Wah, apa itu?
” Sebenarnya aku sudah tidak sabar untuk menanyakan hal itu, namun aku tetap harus menjaga perasaannya.
“
Phia sekarang sedang mengandung anak pertama kami mas.”
“Wah Alhamdulillahirobbil’alamin, semoga Allah menjadikan anak kalian anak yang sholeh dan penyabar
” Aku
semakin merasa tidak menentu, apakah baik menanyakan hal ini pada Tio
sekarang? Apakah ini akan menjadi beban buat Tio? Lalu bagaimana dengan
Phia? Putri satu satunya pamanku yang sangat aku hormati?
“Ka… halo… Ka, masih di sana?”
aku tersentak kaget, rupanya aku tadi sedikit melamun
“Oh iya, kenapa?”
“
Lho? Kaka ini bagaimana, tadi kan kaka yang bilang sama Phia ada perlu sama Tio. Memangnya ada apa Ka?”
“Oh iya, Emh…” aku sedikit ragu. Masih merasa bimbang dengan langkah yang akan kuambil. Namun aku kembali teringat wajah Syifa.
“
Kalo ka Adi ada perlu sesuatu sama Tio, bilang saja ka, mungkin Tio bisa bantu.”
“Bisakah kau datang ke Jakarta?” pintaku gugup.
“
Eh, memangnya ada apa Ka?” tanyanya. Aku pun sadar, aku belum punya alas an kenapa aku harus memintanya datang ke Jakarta.
“Kaka ingin berbicara, tapi sulit untuk menjelaskannya di telepon.”
“
Baiklah, tapi mungkin tidak sekarang.” Jawabannya membuatku sedikit lemas.
“Kapan kamu punya waktu senggang?”
“
Besok lusa, tidak apa kan?” ah untunglah masih dalam waktu dekat.
“Tak apa, terima kasih sebelumnya. Sampaikan salamku untuk keluarga di sana ya.”
“
Oh iya, sama sama Ka. “
Semoga aku bisa menghadapinya, ucapku dalam hati.
Bismillahirrahmanirrohim.
***
“Maafkan aku ka.”
Tio menunduk lesu di hadapanku. Wajahnya yang basah oleh air mata
tersembunyi diantara telapak tangannya. Aku merasakan penyesalan yang
mendalam darinya. Aku pun tak bisa begitu saja menyalahkan, meski ada
sedikit perasaan kecewa terhadapnya.
“Kau seharusnya tak meminta maaf kepadaku, dan aku pun tak marah padamu.
Aku hanya memintamu menemui mereka.” Pintaku seraya memegang pundaknya.
“Bagaimana bisa aku menemuinya dalam keadaan begini Ka? Bagaimana bila
ia memintaku untuk kembali kepadanya? Bagaimana dengan Phia? “ Ia menatapku dengan matanya yang merah dan basah.
“Temui saja. Kau harus ingat bahwa saat kau meninggalkan mereka, kau tak
pernah memikirkan bagaimana bila suatu saat hal ini terjadi. Dan
sekarang pun kau tak perlu memikirkannya. Temui saja.”
Ucapku tegas.
“Aku tak bisa Ka… aku malu.”
“Kau pasti merasa bersalah atas apa yang telah kau lakukan kepada mereka
selama ini. Percayalah, Senja sedikitpun tak menyalahkanmu atas apa
yang telah terjadi.”
“Tapi bagaimana Kaka tahu Senja tidak akan marah kepadaku?” tanyanya lagi, seolah tak yakin.
“Percayalah.” Jawabku sambil tersenyum. “Sekarang istirhatlah, kau pasti lelah setelah perjalanan jauhmu tadi siang.” Aku
pun menuntun Tio ke kamar tamu, membiarkannya melepas lelah dan
gundahnya. Sementara aku langsung memberi kabar pada Senja, bahwa kami
akan menemuinya besok pagi.
***
Pagi harinya kami berangkat menuju sekolah Syifa, karena Senja memintaku
untuk menemuinya di sana. Kami berencana tiba di sana tepat di saat jam
bubar sekolah, agar Tio bisa langsung bertemu Syifa. Mobil kami
berhenti tepat di seberang R.A. Aku membuka pintu mobil, dan meminta Tio
untuk menunggu sebentar. Aku segera menyebrang jalan perumahaan yang
memang tidak padat, menuju sebuah Raudhatul Athfal di mana banyak anak
anak kecil berlarian dengan seragam ungu. Kulihat di
belakang anak anak itu para Ibu ibu penjemput mengikuti, memperhatikan
anak anak mereka. Namun, setelah beberapa lama, aku tak juga bisa
menemukan Senja. Dimana dia? Aku mulai cemas.
“Paman Adi,” Kudengar suara Syifa dari belakang, ia setengah berlari ke
arahku. Ia terlihat cantik dalam seragamnya yang dipadu dengan jilbab
kaos putih berrenda.
“Apa paman sudah bertemu Abi Syifa?” Tanyanya setelah mencium tanganku. Aku tersenyum.
“Mana Umi?” Tanyaku sambil tetap tersenyum.
“Umi sakit paman, jadi aku pergi ke sekolah sendirian.”
“Sakit apa sayang?” Tanyaku kaget.
“Umi tidak bilang sakit apa, tapi katanya Umi hanya perlu istirahat.”
“Oh….” Syukurlah, ucapku dalam hati, kupikir Senja terkena sakit parah dan masuk rumah sakit.
“Eh iya, itu teman Paman kenapa?”
Aku menengok ke belakang, kulihat Tio kini berdiri beberapa langkah
dibelakangku, matanya yang basah oleh air mata menatap Syifa. Aku
menatap Syifa dan tersenyum,
“Itu Abi mu Syifa.”
Syifa membalas tatapanku seolah tak percaya dan lalu segera berlari ke arah Tio. Mereka berpelukan dalam tangis.
“Maafkan ayahmu ini Syifa. Maaf… Maafkan ayah.” Ucap Tio sambil terus memeluk Syifa.
“Tidak Abi, Syifa yang minta maaf. Syifa sama Umi belum bisa mencari
Abi. Umi bilang, Syifa harus sekolah dulu. Nanti kalau sudah pinter,
Syifa baru bisa cari Abi. Untung ada paman Adi yang mau bantuin Syifa
nyari Abi. Jadi Syifa bisa ketemu Abi lebih cepet, engga harus nunggu
Syifa jadi besar dulu.”
Kudengar tangis Tyo semakin membuncah. Entah bagaimana kau telah
membesarkan anak mu selama ini Senja. Namun, aku bisa melihat bahwa kau
telah menjadi Ibu yang hebat. Yang membesarkan anaknya tanpa dendam dan
kebencian.
“Abi udah jangan nangis lagi, abi mestinya senyum karena udah ketmu sama
syifa? Tuh lihat, Syifa aja ga nangis lagi koq?” Akhirnya Tio pun
mencoba meredakan tangisnya.
“Engga sayang, abi ga sedih, abi bahagia bertemu Syifa.”
Aku beranjak dari tempatku, membiarkan Tio dan Syifa berbincang di bangku taman di depan R.A itu.
***
Dan selesailah semua, tidak sesulit dan serumit pikiranku beberapa hari
yang lalu. Tio pulang dengan perasaan lega, tanpa terbebani perasaan
bersalah, setelah Senja berbicara kepadanya sore itu. Aku pun kembali ke
hari hari tenangku, sambil tetap menjalani perawatan atas penyakit yang
tengah kuderita. Aku memang hamper telah kembali seperti dahulu,
rambutku yang sempat rontok ketika menjalani kemotheraphy kini telah
tumbuh kembali. Rasa nyeri dan mual yang dulu hampir kurasakan setiap
detiknya kini telah hilang. Aku begitu bersyukur bahwa aku diberi
kekuatan dan kepercayaan untuk tetap hidup, setidaknya untuk menemui
keriduanku, Senja. Ah kuharap ia baik baik saja di sana. Aku tetap
menanti kabar darinya. Setiap log-in ke akun e-mail, aku berharap
mendengar satu kata darinya. Dan kesabaran itu terjawab di suatu pagi
dengan sangat mengejutkan.
“Mas, nikahi aku…”
AKu nyaris tak percaya saat membacanya. Namun setelah berkali kali ku
baca, itulah inti dari e-mail itu. Aku segera melarikan mobilku ke
rumahnya. Aku ingin meyakinkan diriku sendir bahwa memang itulah yang ia
inginkan.
“Kuharap kau tak keberatan dengan permintaanku kali ini mas.” Ucapnya lugas.
“Kau pun tahu isi hatiku saat aku menemuimu kembali sore itu. Dan tentu iya, aku mau menikahimu.”
Ia tersenyum, sementara hatiku bergemuruh, hingga menumpahkan riaknya di mataku.
Segala Puji bagiMu, Ya Allah, gumanku.
Kami menikah satu minggu berikutnya, dengan amat sederhana, tanpa
kemeriahan atau pesta dan hanya dihadiri oleh orangtuaku, wali dari
Senja serta keluarga dekat yang ada di Jakarta. Sebetulnya orang tuaku
ingin acara pernikahannya dilaksanakan dengan meriah, selain karena aku
adalah anak satu satunya, juga karena mereka ingin merasakan kebahagiaan
lebih saat melihatku berbahagia. Namun Senja enggan, ia pun berbicara
dengan orang tuaku. Ia mengatakan bahwa kita akan lebih bahagia bila
kita mampu berbagi kebahagiaan dengan orang yang lebih sulit
menikmatinya. Pada akhirnya, sebagai rasa syukur kami atas pernikahan
ini, kami mengunjungi beberapa panti asuhan, termasuk panti asuhan
tempat Senja dulu tinggal. Setelah menikah, aku membawa Senja dan Syifa
ke rumahku. Pada awalnya ia bersikukuh tak mau meninggalkan rumah
bacanya, namun setelah kubujuk, ia akhirnya menuruti keinginanku, dan
menitipkan rumah baca itu ke pa Mul, tetangganya. Kami tinggal ber empat
di sana; aku, Senja, Syifa, dan bi Unah, pembantuku. Di rumah yang
kemudian terasa seperti surga bagiku.
Dan hidup dengan mereka terlalu indah untuk diungkapkan. Aku masih ingat
betul kejadian Subuh pertama setelah pernikahan kami. Aku bangun pukul
04.30 seperti biasa, adzan di masjid seberang jalan baru terdengar. Aku
tak menemukan Senja istriku di sampingku. Kemana ia? Pikirku.
“Sudah bangun sayang?” ah suara terindah itu memanggilku. Rupanya Senja
tengah berdiri di pinggir jendela, menikmati langit cerah di Subuh itu,
dan Syifa, ia berdiri di depan Umi nya, menoleh padaku dan tersenyum.
Mereka layaknya bidadari, bermukena putih dengan renda coklat tua,
menatapku dengan penuh cinta.
“Abi ayo wudhu, selepas subuh, Syifa pengen cerita.”
“Cerita?” Tanyaku, sambil melirik pada Senja yang menatapku dengan mata teduhnya. Ia tersenyum lalu mengangguk pertanda iya.
Dan benar saja, sepulang dari masjid, aku menemukan Senja dan Syifa
duduk berhadapan di atas sajadah. Mereka pun mengajakku duduk di samping
mereka.
“Hari ini giliran Syifa yang bercerita, abi sama umi dengerin yah.”
Senja mengangguk, dan lalu menyenggolku yang terpelongo kagum melihat Syifa. Aku pun mengangguk.
“Iya sayang, abi siap dengerin.”
Tanpa aba aba, Syifa pun dengan lancarnya menceritakan tentang salah
seorang temannya di Raudhatul Athfal . Aku dan Senja terhanyut oleh
lembut suaranya, dan perlahan, Senja membaringkan tubuhnya di
pangkuanku. ‘Ya rabb, begitu besar nikmat yang telah kau berikan padaku,
Ya Rahman Ya Rahiim’ gumanku sembari memeluk Syifa dan Senja.
“Bagaimana kamu
mengingkari (Allah) sedang kamu tadinya mati, kemudian dihidupkan
(oleh-Nya), kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan Nya kembali, kemudian
kamu dikembalikan kepada Nya.”
(Al-Baqarah : 28)
Sesaat tubuhku bergetar
kala membaca terjemah Al-Qur’an tersebut di sebuah majalah. Perasaan apa
ini, seolah ada kabut dingin yang menyusup masuk ke ruang kantorku yang
tak ber ac, lalu membungkus tubuh ini, menyelinap melaui pori pori dan
menghentikan jantungku. Ada apa ini? Pikirku. Tiba tiba saja kudengar telepon
di mejaku berdering, aku menatapnya sesaat memastikan telepon itu benar
benar berdering. Setelah deringan ke dua aku mengangkatnya.
“Ada telepon dari rumah pak.” Ucap suara dari seberang sana.
“Sambungkan Lin.” Perasaanku langsung tak menentu, karena memang Senja tak pernah menghubungiku ke kantor selama ini.
“Assalamualikum abi.” Suara lembut istriku langsung meleburkan gundahku.
“Wa’alaikum salam, sayang, ada apa nelpon abi? Kangen yah?” Candaku.
“He he, iya tapi bukan itu sayang, bisa ga Abi pulang lebih awal?”
“Wah? Emang ada apa sayang?
“Emh… bisa ga? Kalo engga juga engga apa apa?
“Ya udah, sabar ya sayang, Abi pulang sekarang.”
Aku pun segera menitipkan urusan pekerjaan kepada Linda, sekretarisku,
dan langsung beranjak pulang. Di perjalanan, aku mampir ke toko bunga
yang sering aku lewati, meski baru kali ini aku singgahi. Aku memang
belum pernah membelikan istriku bunga. Bukannya ia tak menyukai bunga,
karena di rumah ia menanam banyak macam bunga, dan menghiasi ruang ruang
rumah dengan bunga bunga yang ia tanam, namun ia tak ingin aku
membelikannya sesuatu yang tak begitu diperlukan. Aku begitu ingat
kejadian itu. Sehari setelah menikah, aku membawakannya
coklat cashew berbentuk hati, yang terbungkus rapi dalam box pink dengan
hiasan pita merah. Ia memang tersenyum bahagia saat menerimanya, juga
saat kami menikmatinya setelah makan malam. Namun, ia kemudian berkata
‘andai semua orang merasakan kebahagiaan yang tengah kurasakan, mungkin
aku akan lebih menikmati coklat ini.’ Awalnya aku tak mengerti
maksudnya, namun kemudian ia menjelaskan, bahwa saudara saudaranya di
panti dan di jalanan belum bisa menikmati coklat selezat ini. Karenanya
ia memintaku untuk tidak memanjakan nya dengan harta. Ia lebih ingin aku
menggunakan hartanya untuk membantu mereka yang berada dalam kesulitan.
Setelah mendapatkan sekuntum bunga mawar putih, aku pun langsung menuju
rumah. Aku merasakan ada yang aneh, biasanya istriku menantiku di depan
sambil membaca buku. Menyambutku dan membawakan tas kerjaku, bahkan ia
selalu memintaku duduk di tempat tadi ia duduk, melepaskan sepatu dan
kaos kakiku. Kebiasaan yang awalnya aku tolak, karena aku tak ingin
begitu direpotkan oleh istriku, namun ia memaksaku, dan menjelaskan
bahwa ia hanya menjaga cintaku untuknya, dan tak ingin orang lain
melakukan itu untukku. ‘Mungkin ia tengah mempersiapkan kejutan
untukku.’ Pikirku dalam hati. Tanpa berlama lama, aku pun masuk dan
menuju kamar.
“Sayang, sayang abi di mana?” panggilku. Namun yang kemudian menghampirku bukanlah istriku. Tapi Bi Unah.
“Maaf pa, ibu sakit, jadi….” Aku langsung tersentak, tas dan bunga mawar
di tanganku jatuh begitu saja. Tanpa menunggu ma unah menyelesaikan
kalimatnya, aku berlari ke arah kamar dan mendapati istriku terbaring
lemah di sana. Ia menatapku dan tersenyum. Entah apa yang ia katakan
selanjutnya, aku begitu panik hingga langsung menghubungi rumah sakit.
“Maaf pa, kami tidak bisa berbuat banyak.” Ucap dokter seusai ia
memeriksa Senja. Kebekuan tiba tiba mengurungku, aku seolah tak mampu
merasakan semuanya. Keramaian rumah sakit sian itu tiba tiba hilang,
semuanya hening, dan perlahan aku merasakan kebekuan itu mencair melalui
mataku. ‘ Ya Rabb… kuatkan hamba.’ Aku melihatnya, melalui
jendela kaca. Ia tengah berbicara dengan Syifa sambil memegang bunga
mawar putih yang tadi pagi kubelikan. Tak ada rona kesedihan di
wajahnya, ia tetap tersenyum, lalu kulihat Syifa turun dari ranjang dan
menghampiriku. Ia mengajakku masuk dan menemani mereka. Aku, yang masih
beruraikan air mata mencoba tegar. Kuhapus sisa sisa air mataku dan
mengikuti Syifa yang telah kembali ke sisi Ibunya.
“Abi, besok kan giliran abi yang bercerita. Nah, umi minta abi ceritanya
sekarang. Kata umi, umi kayaknya bakal nginep di sini, jadi besok ga
bisa ikutan kumpul sama kita.”
Pinta Syifa kepadaku. Permintaan sederhana yang kemudian terasa berat. Aku
melirik ke arah Senja, dan ia mengangguk. Butuh waktu lama bagiku untuk
mengingat apa yang harus kuceritakan saat itu, hingga Senja memintaku
untuk menceritakan tentang pertemuan pertama kami. Perlahan, aku mulai
menyusun gambar gambar masa lalu di kepalaku, dan menyampaikan apa yang
kulihat dengan terbata bata. Suasana di ruangan itupun menjadi hangat,
kami tertawa, tersenyum, mendengar kekonyolanku waktu itu. Aku terus
bercerita, bercerita dan bercerita, sampai Syifa menarik narik bajuku.
“Umi dah bobo abi.” Aku melihat ke arah Senja, ia begitu tenang dalam
tidurnya, dan kemudian aku tersadar ada suara beep panjang dari alat
pendeteksi denyut nadi yang terletak di atas meja itu. Seolah tak
percaya, aku terus menatap layar kecil yang menunjukan garis lurus
berwarna merah.
‘Innalillahi Wa Inna Ilaihi Roji’un…’ Aku merangkul Syifa dengan air
mata yang seketika deras mengalir, Syifa seolah mengerti apa yang
kumaksudkan, ia pun melepas tangisnya dalam pelukanku.
Sore itu, kami
melepas Senja di pemakaman umum dekat rumah bacanya. Pemakaman yang
biasanya sepi kini begitu ramai oleh orang orang yang ingin
mengantarkan Senja. Aku dan Syifa berjalan berdampingan di belakang
tandu dengan kepala tertunduk, menyusuri tanah merah menuju pemakaman
yang dipenuhi ratusan orang. Berkali kali Syifa memintaku untuk tidak
menangis, namun sulit. Sepanjang perjalanan aku hampir tak bisa menahan
butiran butiran lembut yang mengalun melalui kedua mataku. Hingga aku
tak diijinkan untuk membantu mengangkat tandu dari mobil jenazah.
Untunglah Syifa bisa menguatkanku, hingga akhirnya aku bisa menahan air
mata dan membantu prosesi pemakamannya. Aku memeluk Syifa erat erat
saat Pa Mul dan rekannya menutupi jenazahnya dengan tanah. Sambil
menangis aku berucap dalam hati,
“Selamat jalan Senja, terima kasih telah mengijinkanku untuk menyentuh langitmu.”